Definisi Berpikir Kritis menurut para ahli
Bagaimana definisi berpikir kritis menurut para Ahli?
Oleh: Amiq Fikriyati
Istilah berpikir kritis telah dikenal lebih dari 2.500 tahun yang lalu yang diperkenalkan oleh Socrates. Socrates menunjukkan jika seseorang tidak dapat secara rasional membenarkan dan mengklaim suatu pengetahuan. Dengan kata lain Socrates mengajarkan bahwa seseorang harus mempertanyakan suatu pengetahuan. Teknik yang didasarkan pada pertanyaan yang membutuhkan kejelasan dan konsistensi logis inilah yang dikenal dengan pertanyaan dan pemikiran Socrates. Individu yang berniat untuk memahami kenyataan yang lebih dalam, perlu berpikir secara sistematis, berpikir secara mendalam dan komprehensif, beralasan, dan responsif. Pemikiran Socrates, tidak memungkinkan manusia untuk berkomitmen pada suatu keyakinan, karena pengetahuan yang mereka peroleh dapat berubah. Pemikiran seperti ini membutuhkan pendekatan berpikir kritis (Kanik, 2010).
Tahun 1909, Dewey memperkenalkan pengaruh yang lebih baru tentang berpikir kritis dalam dunia pendidikan. Menurut Dewey, berpikir kritis pada dasarnya adalah proses aktif, yaitu proses di mana orang memikirkan secara mandiri dengan mengajukan pertanyaan dan menemukan suatu informasi secara mandiri. Selanjutnya, banyak ahli lain yang mendefinisikan tentang berpikir kritis. Pada Tabel 2.1 disajikan rangkuman definisi berbipikir kritis oleh beberapa ahli.
(Sumber: Kanik, 2010)
Berbagai
definisi tersebut, mengindikasikan adanya konsensus bahwa berpikir kritis
diarahkan ke beberapa tujuan atau tujuan seperti menjawab pertanyaan, membuat
keputusan, menyelesaikan masalah, menghitung kemungkinan, merumuskan
kesimpulan, menyusun rencana atau melaksanakan proyek. Selain memiliki tujuan,
berpikir kritis juga mengacu pada pemikiran yang masuk akal, reflektif,
mandiri, bertanggung jawab, dan terampil yang difokuskan dalam membangun makna
pribadi. Lebih jauh, seperti yang ditunjukkan dalam beberapa definisi, berpikir
kritis adalah tentang apa yang harus diyakini dan dilakukan telah memenuhi
standar yang sesuai. Sebagai contoh, seseorang yang menjadi percaya atas dasar
alasan yang buruk atau tidak relevan, pada otoritas seseorang yang
kredibilitasnya dipertanyakan, atau tanpa berusaha menilai bukti yang relevan
dengan kebenaran keyakinan, tidak akan dianggap sebagai berpikir kritis. Juga,
ada kesepakatan umum bahwa berpikir kritis tidak hanya membutuhkan kemampuan
untuk menilai alasan dengan benar, tetapi juga kemauan, keinginan, dan
disposisi untuk mendasarkan tindakan dan keyakinan seseorang pada alasan
(Kanik, 2010).
Berpikir
kritis terdiri dari dua komponen: (1) seperangkat informasi dan kepercayaan
yang menghasilkan dan memproses keterampilan, dan (2) disposisi untuk menggunakan keterampilan
tersebut dan untuk memandu perilaku (Ennis, 1989; Facione, 2007). Berpikir
kritis bukan hanya semata-mata proses perolehan dan penyimpanan informasi saja.
Berpikir kritis melibatkan cara tertentu di mana informasi dicari dan
diperlakukan.
Lewis
& Smith (1993) menyarankan penggunaan konsep "berpikir tingkat tinggi
(Higher order thinking)" sebagai
istilah umum untuk mencakup keterampilan penyelesaian masalah, berpikir kritis,
berpikir kreatif, dan pengambilan keputusan. Mereka berpendapat bahwa konsep
yang mencakup seperti berpikir tingkat tinggi, setelah didefinisikan dengan
jelas, memiliki potensi untuk membantu pendidik menutup kesenjangan antara
pemecahan masalah ilmu pengetahuan dan pemikiran kritis kemanusiaan. Mereka
menyarankan definisi bahwa berpikir tingkat tinggi dapat terjadi ketika
individu memperoleh suatu informasi baru, mereka dapat mengaitkan informasi
tersebut dengan informasi yang tersimpan dalam memori dan atau dengan mengatur
ulang serta memperluas informasi ini untuk mencapai tujuan baru dan menemukan
adanya kemungkinan jawaban lain dalam situasi tersebut" (Lewis &
Smith, 1993).
Salah satu contoh untuk menggambarkan bagaimana seseorang berpikir kritis telah bekerja dan dikembangkan dalam sebuah kegiatan pembelajaran adalah dengan memberikan pertanyaan yang memunculkan konflik kognitif dan rasa ingin tahu yang mendalam. Pertanyaan ini memungkinkan seseorang untuk menggali, mengambangkan informasi yang dimiliki, dan bagaimana individu menggunakan informasi itu dan membuktikan kebenarannya. Berpikir kritis lebih dari sekedar keberhasilan penggunaan keterampilan kognitif yang tepat dalam konteks yang sesuai. Seseorang mungkin memiliki keterampilan berpikir kritis, tetapi cenderung tidak menggunakannya, yang menunjukkan bahwa individu tersebut memiliki sedikit kecenderungan dalam berpikir kritis atau istilah lainnya disebut disposisi berpikir kritis. Dengan demikian, berpikir kritis juga mencakup disposisi berpikir kritis yang penting digunakan bersama dengan keterampilan berpikir kritis.