Apa Itu Berpikir Kritis? Ini 5 Indikator Penting Menurut Pakar Pendidikan
Oleh Amiq Fikriyati
Di tengah era digitalisasi yang bergerak cepat dan kompleksitas persoalan global yang semakin meningkat, keterampilan berpikir kritis menjadi salah satu kompetensi yang paling dibutuhkan di dunia pendidikan saat ini. Sayangnya, tidak semua sistem pembelajaran mampu secara efektif menumbuhkan dan melatihkan keterampilan ini pada peserta didik.
Apa Itu Berpikir Kritis?
Berpikir kritis bukan sekadar berpikir secara logis atau "tidak mudah percaya". Lebih dari itu, berpikir kritis adalah proses berpikir yang terorganisasi, sistematis, dan didasarkan pada evaluasi informasi secara objektif dan mendalam. Menurut pakar pendidikan Robert Ennis (1987), berpikir kritis melibatkan dua hal penting yaitu keterampilan (skills) dan disposisi (disposition). Artinya, seseorang bukan hanya harus mampu berpikir secara kritis, tetapi juga harus mau melakukannya (disposisi), dengan kata lain, memiliki kemauan dan kebiasaan untuk berpikir secara mendalam, skeptis, dan reflektif terhadap informasi yang diterima.
Keterampilan berpikir kritis, atau yang oleh sebagian orang disebut sebagai keterampilan berpikir tingkat tinggi, membantu peserta didik untuk menghubungkan pengetahuan ketika mereka menggunakan informasi dari berbagai sumber dan pengalaman untuk mendapatkan perspektif yang lebih luas dan pemahaman yang lebih dalam. Seperti yang ditunjukkan oleh Pascarella & Terenzini (1991), pemikir yang menggunakan keterampilan kognitif ini akan memiliki keterampilan dalam: mengidentifikasi suatu masalah dan asumsi, mengenali hubungan penting, membuat kesimpulan berdasarkan data dan fakta, dan mampu menafsirkan hasil kesimpulan dari suatu informasi yang diterima. Beberapa penulis kembali ke taksonomi Bloom untuk mengkarakterisasi keterampilan berpikir kritis, dimana keterampilan berpikir kritis disamakan dengan analisis, sintesis, dan evaluasi.
Menurut Ennis (1987) keterampilan berpikir kritisterangkum ke dalam 5 kelompok keterampilan berpikir, yaitu (1) elementary clarification (memberikan penjelasan sederhana); (2) basic support (membangun keterampilan dasar); (3) inferences (menarik simpulan); (4) advance clarification (membuat penjelasan lebih lanjut); serta (5) strategy and tactic (strategi dan taktik). Kemudian kelima indikator tersebut dijabarkan ke dalam beberapa sub indikator. Berbagai definisi keterampilan berpikir kritis yang telah dikemukakan oleh beberapa pakar dirangkum oleh Facione (1990) yang menjelaskan bahwa berpikir kritis merupakan keterampilan kognitif yang meliputi interpretation (interpretasi), analysis (analisis), evaluation (evaluasi), inferences (inferensi), dan explanation (eksplanasi) (Facione, 2015).
Salah satu teori Berpikir Kritis yang sering digunakan dalam penelitian adalah Facione (1990).
Peneliti pendidikan Facione (1990) merumuskan lima komponen utama dalam berpikir kritis yang masih banyak dijadikan acuan hingga hari ini: Interpretasi, memahami makna suatu informasi atau peristiwa; Analisis – mengurai dan memahami struktur dari suatu argumen atau gagasan; Evaluasi – menilai kekuatan atau kelemahan dari informasi atau klaim tertentu; Inferensi, menarik kesimpulan yang logis berdasarkan bukti yang ada; dan Eksplanasi, menjelaskan alasan, bukti, dan proses berpikir yang digunakan.
Kelima komponen ini juga menjadi dasar dalam instrumen penilaian California Critical Thinking Skills Test (CCTST) yang digunakan secara luas di dunia akademik internasional. Kelima indikator ini bukan hanya istilah abstrak, tetapi keterampilan nyata yang bisa diajarkan dan dilatih dalam konteks pembelajaran di kelas.
- Interpretasi: Memahami Makna Informasi. Interpretasi adalah kemampuan untuk memahami, mengklarifikasi, dan menguraikan makna dari suatu informasi. Ini mencakup kemampuan membaca data, memahami grafik, atau menangkap maksud dari sebuah pernyataan
- Analisis: Mengurai dan Menilai Gagasan. Analisis berarti memeriksa ide atau argumen, mengidentifikasi bagian-bagiannya, dan menilai bagaimana mereka terhubung. Seseorang yang kritis mampu membedakan antara fakta dan opini, serta memahami struktur argumen.
- Inferensi: Menarik Kesimpulan Berdasarkan Bukti. Inferensi adalah kemampuan untuk mengambil kesimpulan logis dari informasi yang tersedia. Ini juga mencakup kemampuan memperkirakan kemungkinan dan menyusun hipotesis.
- Evaluasi: Menilai Kredibilitas dan Konsistensi Argumen. Evaluasi melibatkan penilaian terhadap kekuatan bukti, logika argumen, dan kepercayaan terhadap sumber informasi. Ini sangat penting dalam era disinformasi.
- Eksplanasi: Menyampaikan dan Membenarkan Pemikiran. Eksplanasi adalah kemampuan untuk mengungkapkan alasan di balik suatu keputusan atau kesimpulan dengan cara yang logis dan dapat dipahami. Ini juga menyangkut kemampuan mempresentasikan argumen secara meyakinkan.
Mengapa Kelima Indikator Ini Penting?
Kelima indikator ini bukan hanya relevan di ruang kelas, tetapi juga penting untuk kehidupan sehari-hari, mulai dari memahami berita, mengambil keputusan finansial, hingga berpartisipasi dalam diskusi sosial dan politik secara bijaksana. Tanpa berpikir kritis, peserta didik mudah terjebak pada pengambilan keputusan yang dangkal, terburu-buru percaya pada informasi yang menyesatkan, dan tidak mampu mempertanggungjawabkan pandangannya secara logis.
Mendorong Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) Sesuai Arah Kemdikdasmen
Transformasi pendidikan Indonesia yang digaungkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menekankan pentingnya pendekatan deep learning, pembelajaran yang bermakna, menyenangkan, kontekstual, dan mendalam. Fokusnya tidak lagi semata pada kuantitas informasi yang dikuasai peserta didik, tetapi pada kualitas pemahaman dan penerapan pengetahuan tersebut secara reflektif dan kritis.
Dalam konteks ini, penguatan keterampilan berpikir kritis menjadi sangat relevan. Indikator berpikir kritis seperti interpretasi, analisis, inferensi, evaluasi, dan eksplanasi adalah inti dari proses belajar yang mendalam. Peserta didik didorong untuk tidak hanya tahu apa yang dipelajari, tetapi juga mengapa dan bagaimana pengetahuan itu digunakan secara bijaksana dalam kehidupan nyata. Dengan mengintegrasikan keterampilan berpikir kritis ke dalam proses pembelajaran, guru dan sekolah secara langsung mendukung lahirnya generasi pembelajar sepanjang hayat, mereka yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh secara intelektual dan adaptif terhadap perubahan.
Saatnya Mendidik Nalar, Bukan Sekadar Menghafal
Sudah saatnya pendidikan tidak hanya berorientasi pada hasil akhir atau hafalan semata. Keterampilan berpikir kritis harus menjadi bagian integral dari proses belajar-mengajar, karena hanya dengan itulah peserta didik mampu menjadi pribadi yang cerdas, mandiri, dan bertanggung jawab.
Memahami dan menerapkan lima indikator berpikir kritis seperti yang dirumuskan oleh Facione (interpretasi, analisis, inferensi, evaluasi, dan eksplanasi) adalah langkah penting untuk membentuk generasi pembelajar yang tahan uji di era informasi ini.
SUMBER:
Ennis, R. H. (1987). A taxonomy of critical thinking dispositions and abilities. In J. Baron & R. Sternberg (Eds.), Teaching Thinking Skills: Theory and Practice (pp. 9-26). New York: W. H. Freeman.
Ennis, R. H. (1992). Assessing higher order thinking. In J. Keefe & H. Walberg (Eds.), Teaching for Thinking (pp. 45-67). Reston, VA: NASSP.
Ennis, R. H (2011). The Nature of Critical Thinking: An Outline of Critical Thinking Dispositions and Abilities. University of Illinois.
Facione, P.A. (1990). Critical thinking: A Statement of Expert Consensus for Purposes of Educational Assessment And Instruction. Research findings and 247 recommendations. Newark, DE: American Philosophical Association. (ERIC Document Reproduction Service No. ED315423)
Facione, P. A. (2015). Critical thinking: What it is and why it counts. Millbrae, CA: California Academic Press.
Facione, P. A. (2011). Measured Reasons and Critical Thinking. Millbrae, CA: The California Academic Press.
Pascarella, E. & Terenzini, P. (1991). How college affects students. San Francisco, CA: Jossey-Bass.