Bagaimana Pengalaman Belajar dalam Pendekatan "Deep Learning": Memahami, Mengaplikasi, dan Merefleksi
Pengalaman belajar adalah proses aktif yang dialami peserta didik selama terlibat dalam kegiatan pembelajaran, baik secara langsung maupun tidak langsung, yang bertujuan untuk membangun pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai. Menurut Tyler (1949), Pengalaman belajar adalah interaksi antara siswa dan kondisi lingkungan belajar yang dirancang oleh guru untuk memberikan kesempatan belajar yang bermakna. Sementara itu menurut Winkel (2005), Pengalaman belajar adalah segala sesuatu yang dialami siswa dalam proses pembelajaran, baik secara fisik, mental, emosional, maupun sosial. Ciri-Ciri Pengalaman Belajar adalah bersifat langsung atau tidak langsung, melibatkan keterlibatan aktif siswa, mengarah pada perubahan perilaku atau pemahaman, dan berkaitan dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
Dalam Kurikulum Merdeka istilah pengalaman belajar yang berpusat pada peserta didik memiliki keterkaitan erat dengan pembelajaran yang kontekstual, autentik, eksploratif, dan kolaboratif. Penekanannya bukan semata-mata pada pencapaian hasil, tetapi lebih kepada proses pembelajaran yang bermakna dan berkesinambungan. Meski demikian, berbeda dengan Kurikulum 2013, Kurikulum Merdeka sebelumnya (tahun 2020, sebelum disempurnakan dengan pendekatan deep learning), tidak merumuskan secara eksplisit tahapan atau sintaks pengalaman belajar tertentu yang harus dilatihkan. Karena dalam Kurikulum Merdeka guru diberikan kebebasan dan fleksibilitas penuh untuk mendesain pembelajaran sesuai konteks dan kebutuhan murid. Sebagai perbandingan, dalam Kurikulum 2013 kita mengenal Pendekatan Saintifik, yang merupakan pendekatan pembelajaran sistematis dengan meniru langkah-langkah kerja ilmiah: mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengomunikasikan. Pendekatan ini bertujuan untuk membangun kompetensi peserta didik secara utuh, mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan dalam proses belajar yang terstruktur. Sementara itu, Kurikulum Merdeka lebih menekankan pada pembelajaran yang berbasis pengalaman nyata, seperti project-based learning, yang mana pengalaman belajarnya saat kurikulum ini diimplementasikan tidak secara eksplisit disebutkan sebagai tahapan/langkah-langkah yang harus dimunculkan dalam pembelajaran sebagaimana dalam K13.
Lantas, apa yang sesungguhnya menjadi nilai baru dari pendekatan pembelajaran mendalam ini?
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, dengan tegas menyatakan bahwa deep learning adalah pendekatan yang menuntut peserta didik untuk memahami konsep secara menyeluruh dan mampu menerapkannya dalam situasi nyata, bukan sekadar menghafal informasi. Pembelajaran tidak lagi dipahami sebagai proses menerima pengetahuan, melainkan sebagai proses aktif membangun makna yang berakar pada pengalaman, refleksi, dan keterhubungan antarkonsep. Proses ini tidak hanya menekankan pada capaian akademik semata, tetapi juga pada pembentukan Pemahaman (Kognitif), Cara berpikir, Karakter (seperti, sikap, kemandirian, keimanan, kewargaan) dan keterampilan abad ke-21 (4C: Kritis, Kreatif, Kolaboratif, dan Komunikasi) yang berkelanjutan. Hal ini kemudian dituangkan dalam Delapan dimensi profil lulusan yang merupakan hasil dari capaian pengetahuan, keterampilan, dan karakter. Dalam PERMENDIKDASMEN NOMOR 13 TAHUN 2025, disebutkan bahwa Pembelajaran mendalam difokuskan pada pencapaian delapan dimensi profil lulusan yaitu (1) keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, (2) kewargaan, (3) penalaran kritis, (4) kreativitas, (5) kolaborasi, (6) kemandirian, (7) kesehatan, dan (8) komunikasi. Dimensi profil lulusan merupakan kompetensi utuh yang harus dimiliki oleh setiap Peserta Didik setelah menyelesaikan proses pembelajaran dan pendidikan. (Deskripsi masing-masing dimensi baca DISINI)
Jika pada kurikulum-kurikulum sebelumnya (K13, KTSP) fokus utamanya adalah pada pembelajaran yang bermakna, maka dalam kerangka pendekatan pembelajaran mendalam mengeksplisitkan 3 istilah prinsip pembelajaran yaitu bermakna (meaningful), berkesadaran (mindful) dan mengembirakan (joyful). Pembelajaran yang berkesadaran (mindful) berarti mendorong peserta didik untuk benar-benar memahami mengapa mereka belajar sesuatu, serta apa relevansinya bagi diri, masyarakat, dan masa depan mereka. Sementara pembelajaran yang menggembirakan (joyful) menjadikan proses belajar sebagai pengalaman yang menyenangkan, memotivasi, dan memanusiakan sesuai dengan semangat Merdeka Belajar.
Dengan demikian, nilai baru dalam
pendekatan deep learning tidak hanya terletak pada kedalaman pemahaman, tetapi
juga pada kesadaran reflektif dan suasana belajar yang menggembirakan.
Ketiganya bersinergi dalam membentuk peserta didik menjadi pembelajar yang
kritis, mandiri, dan utuh sebagai manusia seutuhnya. Pembelajaran mendalam kini
tidak hanya mendorong peserta didik untuk sekadar tahu dan bisa, tetapi juga
sadar yaitu sadar akan apa yang dipelajari, mengapa dipelajari, dan bagaimana
pengetahuan itu berguna bagi dirinya, masyarakat, dan lingkungannya.
Menurut penulis, prinsip berkesadaran
ini dapat dimaknai sebagai bentuk “emotional commitment”. Dalam kerangka
teori meaningful learning yang dikemukakan oleh David Ausubel, hakikat dari
belajar bermakna tidak hanya bergantung pada kemampuan peserta didik mengaitkan
konsep secara logis, tetapi juga pada keterlibatan emosional dalam
mengintegrasikan pengetahuan baru dengan struktur kognitif yang sudah dimiliki.
Komitmen emosional inilah yang menjadi salah satu elemen kunci pembelajaran
bermakna. Ia bukan sekadar mencerminkan proses kognitif, melainkan merupakan
pengalaman personal yang sarat dengan emosi, nilai, dan pemaknaan diri. Dengan
kata lain, pembelajaran sejati terjadi ketika peserta didik tidak hanya
memahami secara intelektual, tetapi juga merasakan dan menginternalisasi
pengetahuan dalam konteks pengalaman hidupnya sendiri.
Dalam konteks deep learning, berkesadaran
bukan sekadar istilah psikologis. Ia merupakan katalis agar pembelajaran
benar-benar hidup dan melekat dalam diri peserta didik. Ketika peserta didik
mengalami keterlibatan emosional yang mendalam, mereka tidak hanya memahami
konsep secara logis, tetapi juga merasakan relevansi personal dari apa yang
dipelajari. Inilah pembeda antara pembelajaran yang bersifat informatif dengan
pembelajaran yang bersifat transformatif. Belajar tidak hanya mendalam secara
kognitif, tetapi juga menyentuh kesadaran sebagai dimensi afektif yang lebih
dalam, yakni disposisi berpikir, seperti rasa peduli, relevansi pribadi, dan
dorongan batin untuk menjadikan pembelajaran bermakna bagi dirinya sendiri.
Bukan sekadar memenuhi tuntutan administratif atau capaian profil pelajar,
melainkan benar-benar menghidupkan nilai-nilai pembelajaran sebagai proses
pembentukan pribadi dan karakter pembelajar sepanjang hayat.
Pengalaman pembelajaran apa yang
dilatihkan dalam pendekatan Deep Learning?
Pengalaman belajar dalam konteks ini dipahami sebagai serangkaian aktivitas yang dialami individu secara aktif dalam memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap/nilai/karakter. Proses ini dapat terjadi dalam berbagai lingkungan sekolah, rumah, masyarakat, dan melibatkan interaksi dengan materi pelajaran, guru, teman sejawat, serta lingkungan kontekstual. Prinsip tersebut diwujudkan melalui pengalaman belajar Peserta Didik, yaitu memahami, mengaplikasi, dan merefleksi. Penerapan pembelajaran mendalam didukung dengan praktik pedagogis oleh Pendidik, lingkungan belajar yang memberikan keamanan dan kenyamanan kepada Peserta Didik, pemanfaatan digital serta adanya kemitraan pembelajaran yang optimal.
Tiga Tahap Pengalaman Belajar dalam Deep Learning
Pengalaman belajar dalam Pembelajaran
Mendalam (PM) dirancang selaras dengan kerangka Taksonomi SOLO (Biggs &
Collis, 1982) dan Taksonomi Bloom Revisi (Anderson & Krathwohl, 2001).
Prosesnya mencakup tiga tahap utama yang saling berkesinambungan dan membentuk
perjalanan berpikir peserta didik secara utuh: Memahami, Mengaplikasi,
dan Merefleksi.
1. Memahami (Understanding)
Tahap awal dalam
pengalaman belajar mendalam adalah memahami, yaitu proses aktif peserta
didik dalam mengonstruksi pengetahuan secara bermakna. Merujuk pada tahapan Unistruktural
dan Multistruktural dalam Taksonomi SOLO, dan pada kategori Mengingat
dan Memahami dalam Taksonomi Bloom. Pada tahap ini, peserta didik
berupaya membangun fondasi pemahaman terhadap konsep atau materi melalui
eksplorasi dari berbagai sumber dan konteks. Pengetahuan yang dikembangkan
mencakup pengetahuan esensial, aplikatif, serta nilai dan
karakter. Proses ini menekankan pendekatan yang aktif dan konstruktif,
bukan sekadar menerima informasi secara pasif. Dengan demikian, peserta didik
mulai mengembangkan sense of meaning terhadap apa yang mereka pelajari,
yang menjadi dasar penting bagi tahap aplikasi dan refleksi selanjutnya.
Tahapan "memahami" memberikan pengalaman belajar yang mencakup tiga dimensi pengetahuan, yaitu pengetahuan esensial, aplikatif, serta nilai dan karakter. (1) Pengetahuan esensial, merupakan dasar fundamental dalam suatu disiplin ilmu yang harus dikuasai untuk membangun pemahaman yang lebih kompleks dan dapat diterapkan dalam berbagai konteks, seperti penguasaan kosakata dan tata bahasa dasar dalam pembelajaran bahasa;(2) Pengetahuan aplikatif, berfokus pada penerapan konsep, teori, atau keterampilan dalam situasi nyata untuk menyelesaikan masalah atau menciptakan sesuatu yang berdampak, misalnya kemampuan menulis laporan atau presentasi secara efektif; (3) Pengetahuan nilai dan karakter, berkaitan dengan pemahaman nilai moral, etika, budaya, dan kemanusiaan yang membentuk sikap dan perilaku peserta didik, seperti menggunakan bahasa untuk membangun hubungan baik, menghindari konflik, serta menunjukkan empati dan kepedulian. Ketiga dimensi ini secara sinergis membentuk fondasi yang kokoh bagi peserta didik dalam proses memahami secara mendalam.
Tahap ini merupakan fondasi awal pembelajaran mendalam. Contoh kegiatan memahami dalam kegiatan pembelajaran:
| Komponen memahami |
|
Contoh Aktivitas |
|
2. Mengaplikasi (Applying)
Tahapan ini masuk dalam tahap Relational dalam Taksonomi SOLO dan Menerapkan serta Menganalisis dalam Taksonomi Bloom. Setelah memiliki pemahaman yang kuat, peserta didik memasuki tahap mengaplikasi, yakni menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam berbagai situasi nyata dan kontekstual. Pada tahap ini, peserta didik diajak untuk memecahkan masalah, merancang solusi, melakukan eksperimen, atau menciptakan produk yang relevan dengan dunia nyata. Proses ini tidak hanya menumbuhkan kreativitas dan kemandirian, tetapi juga membangun kemampuan untuk berpikir lintas konsep dan mentransfer pengetahuan ke dalam berbagai konteks kehidupan.
Pada tahapan mengaplikasi,
peserta didik dapat memperoleh pengalaman belajar seperti:
Komponen Mengaplikasikan |
|
Contoh Aktivitas |
|
3. Merefleksi (Reflecting)
Tahap merefleksi merupakan proses mendalam di mana peserta didik meninjau kembali pengalaman belajarnya, baik dari sisi proses maupun hasil. Berada dalam tahapan Extended Abstract pada SOLO dan Mengevaluasi serta Mencipta pada Bloom. Refleksi melibatkan regulasi diri, yakni kemampuan peserta didik untuk merencanakan, mengamati, mengevaluasi, dan menyesuaikan strategi belajarnya secara mandiri. Dalam tahap ini, peserta didik tidak hanya mengevaluasi efektivitas pembelajaran, tetapi juga memaknai pembelajaran secara personal dan emosional. Merefleksikan pengetahuan memungkinkan mereka untuk memperluas ide, menyusun wawasan baru, dan mengaitkan pembelajaran dengan nilai, identitas diri, serta kontribusi terhadap masyarakat dan lingkungan.
Tahapan
tertinggi dalam pengalaman belajar mendalam, di mana peserta didik:
| Komponen Merefleksi |
|
| Contoh Aktivitas |
|
Penerapan PM juga perlu melibatkan empat komponen penting yang saling mendukung dan membentuk pengalaman belajar yang holistik bagi peserta didik. Keempat komponen ini adalah praktik pedagogis, lingkungan pembelajaran, pemanfaatan teknologi digital, dan kemitraan.
Dalam implementasi praktik pedagogis,
guru dapat menerapkan berapa model maupun strategi pembelajaran (praktik
pedagogis) untuk mencapai tujuan belajar dalam mencapai dimensi profil lulusan.
Untuk mewujudkan PM guru berfokus pada pengalaman belajar peserta didik yang
autentik, mengutamakan praktik nyata, mendorong keterampilan berpikir tingkat
tinggi dan kolaborasi. Strategi yang dapat digunakan seperti Pembelajaran
Berbasis Inkuiri, Pembelajaran Berbasis Proyek, Pembelajaran Berbasis Masalah,
Pembelajaran Kolaboratif, Pembelajaran berbasis Pemikiran Desain (Design
Thinking), STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematic), SETS
(Science, Environment, Technology, and Society), dan sebagainya.
Amiq Fikriyati
Di tulisan selanjutnya, kita akan membahas bagaimana praktik pedagogis dapat diimplementasikan dalam pembelajaran mendalam serta bagaimana mengukur delapan dimensi profil lulusan. Stay tuned!