Belajar Kimia Melalui Proyek, Siswa SMA SIG Kembangkan Sabun Cair (SAPOCH3M) bersama Mahasiswa Pendidikan Kimia Unesa
Program Pengenalan Lingkungan Persekolahan (PLP) merupakan program yang dilaksanakan oleh Universitas Negeri Surabaya untuk memfasilitasi pengalaman nyata di dunia persekolahan bagi mahasiswa jurusan kependidikan (calon guru). Program ini memberikan pengalaman untuk membangun kompetensi pedagogik, sosial, kepribadian, serta profesional mahasiswa calon guru. Tidak hanya itu, program ini membantu mahasiswa memahami kinerja lingkungan secara fisik, administratif, serta sosial dan psikologis di sekolah.
Kegiatan yang dilakukan di SMA SIG melibatkan 5 mahasiswa prodi Pendidikan Kimia Unesa, Maqfiratul Diah Anggraini, Aisyah Lilia Ardani, Najibatun Najwa, Zahwa Asmalia Aizatin Nihla, dan Wahyu Maulidah Sholeha, di bawah bimbingan Sholatul Chafidah, S.Pd., sebagai guru pembimbing kimia, serta di bawah pengawasan Dr. Amiq Fikriyati, M.Pd., selaku pembimbing program studi. Dalam kegiatan ini, para mahasiswa PLP menerapkan pembelajaran mengenai topik asam-basa (pH) dengan model pembelajaran Project-Based Learning (PjBL) di beberapa kelas (X-1, X-2, X-3, X-4, dan XI-1) dengan total 115 siswa.
Gambar 1. Potret mahasiswa bersama guru pamong
Dok. Sumber Pribadi
Pembelajaran ditekankan pada pemecahan permasalahan melalui proyek nyata pembuatan sabun cair. Efek penggunaan sabun sintetis yang dapat merusak ekosistem air menimbulkan permasalahan di lingkungan. Beberapa indikator yang ditekankan melalui Project-Based Learning (PjBL) adalah penentuan pertanyaan mendasar, perencanaan proyek, penyusunan jadwal, monitoring, serta keterlibatan siswa dalam presentasi hasil dan refleksi pembelajaran. Siswa tidak hanya memahami konsep asam-basa (pH) secara teoritis, tetapi juga dapat melatih keterampilan proses sains dan pemecahan masalah (problem solving).
Gambar 2. Proses pembuatan sabun cair
Dok. Sumber Pribadi
Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, siswa dan siswi menunjukkan
antusiasme yang tinggi dalam mengikuti praktikum pembuatan sabun cair. Mereka
dibagi ke dalam beberapa kelompok, dengan masing-masing kelompok menggunakan
jenis essential oil dan pewarna yang berbeda agar hasil produk yang dibuat
memiliki karakteristik yang beragam. Antusiasme peserta didik terlihat pada
saat proses pencampuran bahan, hasil yang diperoleh masing-masing kelompok pun
bervariasi karena ada beberapa kelompok yang mendapatkan kualitas sabun cair
dengan kualitas yang baik, sementara beberapa kelompok lainnya mendapatkan
hasil sabun yang terlalu encer. Hal tersebut mendorong siswa-siswi untuk aktif berdiskusi dan mencari tahu faktor-faktor yang memengaruhi perbedaan hasil percobaan pada setiap
kelompok.
Gambar 3. Pengemasan dan hasil sabun cuci tangan cair
Dok. Sumber Pribadi
Setelah proses pembuatan sabun selesai, setiap kelompok juga melakukan uji pH untuk memastikan kualitas sabun cair yang dihasilkan. Hasil pengukuran pH berada pada kisaran 5–7 yang sesuai dengan pH sabun cair, sehingga tetap nyaman digunakan dan membantu menjaga kelembapan kulit. Praktikum pembuatan sabun cair menjadi pengalaman menarik yang membantu siswa dan siswi memahami penerapan konsep yang dipelajari di kelas dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini juga melatih kerja sama, berpikir kritis, dan pemecahan masalah melalui pengamatan langsung, sekaligus menumbuhkan pemahaman tentang pentingnya pengendalian kualitas produk demi keamanan dan kenyamanan penggunaannya.
Melalui penerapan pembelajaran berbasis proyek SAPOCH₃M, mahasiswa PLP Pendidikan Kimia UNESA bersama peserta
didik SMA SIG memperoleh pengalaman belajar yang menekankan penerapan konsep
kimia dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembuatan sabun cuci tangan
memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat langsung dalam
kegiatan praktikum, mengembangkan keterampilan proses sains, serta melatih
kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi sebagai
bagian dari keterampilan abad ke-21. Selain memahami konsep kimia, peserta
didik juga dikenalkan pada proses pengembangan produk yang bermanfaat bagi
masyarakat.
Kegiatan ini mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs),
khususnya SDG 3 (Good Health and Well-Being) melalui peningkatan kesadaran akan
pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat, SDG 6 (Clean Water and Sanitation)
melalui edukasi mengenai higiene dan sanitasi, serta SDG 4 (Quality Education)
melalui penerapan pembelajaran yang aktif, kontekstual, dan bermakna. Produk
sabun cair yang dihasilkan juga memberikan pengalaman kepada peserta didik
untuk memahami bagaimana ilmu kimia dapat diolah menjadi produk yang memiliki
nilai guna dan potensi nilai ekonomi.
Kolaborasi antara mahasiswa dan peserta didik dalam proyek SAPOCH₃M mencerminkan implementasi visi Program Studi S1
Pendidikan Kimia UNESA untuk mengembangkan pendidikan dan pembelajaran kimia
yang adaptif, inovatif, dan kolaboratif berbasis edu-ecopreneurship. Melalui
kegiatan ini, peserta didik tidak hanya memperoleh pemahaman akademik yang
lebih mendalam, tetapi juga mengembangkan jiwa inovatif dan kewirausahaan
dengan memanfaatkan ilmu kimia untuk menghasilkan produk yang bermanfaat bagi
kesehatan masyarakat dan berpotensi menjadi solusi bernilai ekonomi yang berkelanjutan.