Belajar Kimia Lebih Inklusif: Scaffolding Membantu Siswa Memahami Konsep Hukum Proust
Surabaya – Belajar kimia tidak selalu mudah bagi
setiap peserta didik. Konsep yang melibatkan angka, perbandingan, dan penalaran
sering kali menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi siswa yang membutuhkan
dukungan belajar lebih intensif. Namun, penelitian di bidang pendidikan kimia
menunjukkan bahwa dengan dukungan yang tepat, setiap siswa memiliki kesempatan
untuk berkembang.
Hal tersebut terlihat dalam
sebuah penelitian dari Dosen dan mahasiswa S1 Pendidikan Kimia, Dr. Dian
Novita, ST., M.Pd., dan Nafisatuz Zakiyah yang mengkaji penggunaan Lembar Aktivitas Peserta Didik (LAPD)
berbasis Scaffolded Handwritten
Constructed-Response Tasks (SHCRT) dalam pembelajaran materi Hukum Proust. Penelitian ini
melibatkan empat peserta didik, terdiri atas dua siswa slow learner dan dua siswa reguler. Penelitian tidak hanya melihat
hasil belajar, tetapi juga mengamati bagaimana siswa menggunakan bantuan selama
belajar dan sejauh mana mereka mampu melanjutkan pembelajaran secara mandiri.
Hasil penelitian menunjukkan adanya
peningkatan pemahaman konsep pada seluruh peserta didik setelah pembelajaran
menggunakan LAPD-SHCRT. Perubahan tersebut terlihat dari hasil pretest dan
posttest. Dua siswa slow learner maupun
regular menunjukkan peningkatan yang cukup besar. Hasil ini menunjukkan bahwa
perkembangan pemahaman konsep setiap siswa memiliki pola yang berbeda.
Pada awal pembelajaran, beberapa siswa
masih mengalami kesulitan secara matematis dalam memahami perbandingan massa
dalam Hukum Proust dimana terdapat siswa yang belum mampu menyederhanakan rasio
atau menggunakan rasio untuk menentukan massa zat yang bereaksi dan zat yang
tersisa. Setelah pembelajaran, sebagian siswa mampu menentukan dan
menyederhanakan rasio, menghitung massa zat yang bereaksi maupun tersisa, serta
menghubungkan hasil perhitungan dengan konsep kimia tentang hukum perbandingan
massa tetap.
Tidak Semua
Siswa Membutuhkan Bantuan yang Sama
Salah satu temuan menarik dari
penelitian ini adalah bahwa bantuan
dalam belajar tidak dapat diberikan dengan pola yang sama kepada semua siswa.
Melalui analisis video, wawancara, dan hasil pekerjaan siswa, ditemukan bahwa
kebutuhan scaffolding setiap peserta
didik berbeda. Pada siswa slow learner,
bantuan cenderung lebih intensif dan terstruktur, seperti petunjuk, penjelasan
langkah demi langkah, pengulangan, contoh, ringkasan materi, hingga penggunaan
representasi visual. Sementara itu, siswa reguler umumnya membutuhkan bantuan
terutama pada tahap awal dan kemudian dapat melanjutkan pengerjaan secara lebih
mandiri.
sTemuan ini memberikan pesan sederhana
tetapi penting: pembelajaran yang
inklusif bukan berarti memberikan perlakuan yang sama kepada semua siswa,
melainkan memberikan dukungan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing siswa.
Menuju
Pendidikan Kimia yang Lebih Inklusif
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa scaffolding dan kemandirian saling
berkaitan dalam proses belajar. Siswa slow
learner dapat mengerjakan tugas secara mandiri setelah memperoleh arahan
atau contoh, tetapi pada tahapan tertentu masih membutuhkan dukungan.
Sebaliknya, siswa reguler cenderung lebih mampu mempertahankan proses
pengerjaan secara mandiri setelah memperoleh bantuan awal.
Menariknya, penelitian juga menemukan
bahwa kemampuan siswa untuk mengomunikasikan
kesulitan dan meminta bantuan menjadi bagian penting dalam proses
pembelajaran. Pada siswa reguler, misalnya, keberanian bertanya ketika
mengalami keraguan membantu guru atau observer memberikan dukungan pada saat
yang tepat.
Secara keseluruhan, hasil penelitian
menunjukkan bahwa perubahan pemahaman konsep tidak hanya berkaitan dengan ada
atau tidaknya bantuan, tetapi juga dengan bagaimana siswa mengakses, merespons,
dan memanfaatkan bantuan tersebut.
Temuan penelitian ini memiliki relevansi
kuat dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Quality Education, yang mendorong
terwujudnya pendidikan yang inklusif dan bermutu bagi semua.
Dalam konteks pendidikan kimia, prinsip
tersebut dapat diwujudkan melalui penyediaan pengalaman belajar yang
mempertimbangkan keragaman kemampuan peserta didik. Penggunaan LAPD-SHCRT
menunjukkan salah satu alternatif bagaimana tugas pembelajaran dapat disertai
dukungan bertahap sehingga siswa memperoleh kesempatan untuk memahami konsep
sesuai dengan kebutuhannya.
Penelitian ini juga sejalan dengan
semangat SDG 10: Reduced Inequalities, karena pendidikan inklusif berupaya
mengurangi kesenjangan kesempatan belajar bagi peserta didik dengan
karakteristik dan kebutuhan belajar yang beragam.
Dengan demikian, pembelajaran kimia
tidak hanya berbicara tentang rumus, angka, dan reaksi kimia. Lebih dari itu,
pembelajaran kimia dapat menjadi ruang untuk membangun kesetaraan kesempatan belajar.
Bagi dunia pendidikan, pesan dari
penelitian ini cukup sederhana: setiap
siswa dapat belajar, tetapi tidak selalu dengan cara dan dukungan yang sama.
Guru perlu mengenali kebutuhan peserta didik, memberikan scaffolding yang tepat, dan secara bertahap mendorong mereka
menjadi lebih mandiri.
Inilah salah satu langkah kecil menuju
pendidikan kimia yang semakin inklusif, suatu pendidikan yang tidak hanya
mengejar penguasaan konsep, tetapi juga memastikan bahwa setiap peserta didik
mendapatkan kesempatan untuk berkembang.