Batik Shibori Perpaduan Budaya Indonesia–Jepang Meriahkan P5 di SMA Trensains Tebuireng Bersama Mahasiswa Pendidikan Kimia UNESA
Jombang, 31 Mei 2025 — Suasana SMA Trensains Tebuireng Jombang pada Sabtu pagi terasa begitu semarak. Sekolah ini menggelar Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan tema unik: Batik Shibori.
P5 merupakan salah satu komponen penting dalam Kurikulum Merdeka yang bertujuan membentuk pelajar berkarakter kuat, berwawasan global, dan mampu bersaing di era modern. Dalam pelaksanaannya, peserta didik diajak belajar dari pengalaman nyata melalui proyek kontekstual dan kolaboratif.
Tahun ini, siswa kelas X berkesempatan memadukan kekayaan budaya Indonesia dengan teknik pewarnaan kain Shibori asal Jepang. Sebanyak 8 kelas berpartisipasi, memamerkan karya batik hasil kreasi mereka yang dikerjakan penuh semangat dan kreativitas. Setiap karya memancarkan pemahaman mereka terhadap teknik Shibori yang dikolaborasikan dengan sentuhan khas batik Nusantara.
Tidak hanya berhenti di proses pembuatan, para siswa juga menata booth bertema Jepang, lengkap dengan lampion, origami, dan ornamen estetika yang berpadu manis dengan nilai-nilai lokal. Para pengunjung, termasuk wali murid, disuguhi pengalaman visual yang memikat.
Menariknya, kegiatan ini juga menjadi ajang praktik kewirausahaan. Produk batik hasil karya siswa dijual kepada tamu undangan, mengajarkan keterampilan berdagang sekaligus membangun karakter mandiri dan bernalar kritis.
Seluruh karya dinilai oleh juri berkompeten di bidang seni dan budaya, dengan penilaian mencakup kreativitas, teknik, keunikan, dan kekompakan tim. Lebih dari sekadar pameran seni, kegiatan ini menanamkan nilai kolaborasi, gotong royong, kreativitas, dan kecintaan pada budaya.
Mahasiswa
Prodi Pendidikan Kimia Universitas Negeri Surabaya (UNESA) yang sedang
melaksanakan Program Pengalaman Lapangan (PLP) di SMA Trensains turut berperan
aktif mendampingi proses ini. Kehadiran mereka memberi dukungan dalam
penguasaan teknik pewarnaan yang berkaitan erat dengan pembelajaran kimia,
sekaligus menguatkan sinergi antara pendidikan sains dan seni.
Dengan
kolaborasi seperti ini, pendidikan kimia tidak hanya hidup di laboratorium,
tetapi juga dapat meresap dalam kehidupan nyata dan budaya masyarakat.